Tim DVI Polda Jateng Ambil Sample DNA Orang Tua Korban

SAM_0115

Pemalang (Reportase) – Dokkes Polda Jateng menurunkan tim DVI (Desaster Victim Identification) untuk mengambil sample DNA dari kedua orang tua korban Barjo, salah satu ABK yang ikut tenggelam bersama ABK lainnya di kapal Oryong 501 di perairan laut lepas Rusia. Tim yang dipimpin oleh Kombes dr. Rini Mulyani, Kabid dokkes Polda Jateng bersama staf dari Kementerian Luar Negeri datang ke rumah duka di dukuh Ujungkumpul Rt.03/Rw.06 desa Limbangan kecamatan Ulujami Pemalang, Jumat (5/12) sekitar pukul 12.45 wib. Tim yang didampingi oleh Kabag Sumda Polres Pemalang Kompol Suryono, Kasubbag Humas AKP Harsono, SH, serta beberapa anggota lainnya langsung menemui pihak keluarga yang diwakili oleh ayah dan ibu korban.

Neni Kurniati, kasi perdata direktorat perlindungan WNI Kemenlu menjelaskan kepada keluarga bahwa kedatangannya atas pemerintah untuk membantu pihak keluarga korban dalam pemenuhan hak-hak yang harus diterima oleh pihak keluarga ataupun ahli waris. Disampaikan bahwa dalam hal tersebut pihak kelurga berhak atas sisa gaji yang diterima korban dan juga asuransi kecelakaan.

“Pihak kami akan membantu mengurus semua hak-hak yang harus diterima pihak keluarga. Untuk itu kami kesini dalam rangka pemenuhan data-data yang harus kami siapkan,”terang Neni.

Dijelaskan juga bahwa pihak Kemenlu belum bisa berbicara angka terkait berapa besar uang yang akan diterima pihak keluarga.

Sementara Tim DVI melaksanakan tugasnya yaitu mengambil sample darah dari kedua orang tua barjo. Kurdi (66) sang ayah dan ibu Daskiyah(65) diambil darahnya yang kemudian akan diproses untuk mengetahui DNA korban apakah cocok dengan DNA dari kedua orang tua korban.

“Kami mendapat keterangan bahwa ada 11 jenasah yang baru diketemukan. Kami tidak tahu apakah jenasah tersebut adalah Barjo. Untuk itu kami datang kesini dalam rangka mengambil sample DNA orang tuanya untuk kami cocokan dengan DNA korban,” jelas dr Rini di lokasi rumah duka.

Ditambahkan juga bahwa proses pencocokan DNA tersebut memakan waktu sekitar 2 minggu. Berarti setelah waktu tersebut baru diketahui apakah DNAnya cocok atau tidak.

Ayah korban, Kurdi menyampaikan harapannya kepada perwakilan pemerintah yang datang di rumahnya, bahwa jika anaknya benar-benar meninggal, berharap jenasahnya bisa dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan di desa kelahirannya. (hp)

Pos ini dipublikasikan di daerah, Pemalang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s