MENGAIS REJEKI DENGAN JARAN KEPANG

foto : Reportase

foto : Reportase

Pemalang (Reportase) – Kesenian tradisional Jaran Kepang (Kuda Lumping) yang sudah mulai tidak populer dan dilirik masyarakat perkotaan khususnya, ternyata masih ada dan dimainkan, bahkan di tempat umum seperti pada kemacetan jalan di wilayah jalan pantura.

Adalah Nasem (41th), perempuan yang berasal dari kerawang Jawa Barat ini, berusaha mengais rejeki ditengah-tengah kemacetan ataupun antrian panjang saat lampu lalulintas berwarna merah. Melihat situasi arus jalan raya di jalur pantura Blandong Comal yang agak tersendat di lampu lalulintas, Nasem mengambil kesempatan tersebut untuk “mengamen” dengn cara menari jaran kepang. Bermodal pakaian tradisional yang terkesan apa adanya, sebuah jaran kepang dan tape recorder yang di cangklong, Nasem menghampiri setiap mobil yang berhenti dan menari dengan lincah. Dengan tarian tersebut, Nasem berharap  dapat menghibur  para pengemudi mobil dan mendapatkan sejumlah uang dari hasil dirinya menari.

“Penghasilan di sini lumayan, antara 100 ribu sampai 150 ribu rupiah. Kadang ya dapat 70 ribu kalau sepi,” terang Nasem saat ditanya penghasilannya per hari.

Perempuan yang sudah mengamen sekitar 2 bulan di lokasi tersebut menyampaikan bahwa dari hasil mengamen, dirinya harus menghidupi ke 3 anaknya , juga untuk membayar kontrakan selama berada di Comal.

Pada saat ditanya kenapa harus menari jaran kepang untuk mencari nafkah, Nasem menjawab bahwa menari jaran kepang  sudah dilakukannya sejak dari kecil.

“Saya menari ini dari kecil mas, dan keahlian  yang saya miliki hanya menari ini. Jadi apa salahnya jika saya mencari uang dengan menari jaran kepang,” ungkapnya.

Menari di tengah antrian panjang kendaraan, bukan pekerjaan yang tanpa resiko. Hal tersebut juga dialami oleh Nasem. Dituturkan olehnya, tidak jarang para pengemudi tidak memberi uang tapi justru menggoda dengan kata-kata rayuan. Selain itu kadang juga harus kucing-kucingan dengan petugas satpol PP pada saat operasi.

“Banyak mas, pengemudi tidak memberi uang tapi malah menggoda. Tapi tidak apa mas, saya anggap sebagai bagian dari kerja saya,” pungkasnya. (hp)

Pos ini dipublikasikan di daerah, Ekonomi, Pemalang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s