Tonase Berlebih, Mobil Baru Terpaksa Dilansir

mobil baru
Pemalang (Reportase) – Ketentuan yang mengharuskan mobil bertonase diatas 10 ton tidak boleh melintas di atas jembatan Comal, membuat beberapa sopir truk tersebut yang mengandalkan jalan Raya Pantura sebagai jalur utama pengiriman atau ekpedisi barang yang diangkutnya agar tepat waktu dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, mereka menggunakan cara yaitu dengan menurunkan mobil-mobil baru tersebut di pinggir jalan dan membawanya satu persatu ke timur jembatan Comal.

Taufik dan Ajat, dua orang sopir dan kenet mengatakan, sejak malam Senin ia sudah berada di pinggir jalan lingkar utara memarkir truknya menunggu operan truk yang sama yang akan menjemput di sebelah timur
jembatan Comal. Keduanya membawa mobil baru berbagai merk produk dari Toyota dan Honda dari Karawang yang akan dikirim ke Surabaya. Ia sendiri tahu bahwa truknya tidak bisa melintas ke jembatan Comal karena tonasenya diatas 10 ton. “Kami sengaja turun disini sambil menunggu truk dari perusahaan yang sama yang akan mengangkutnya kembali ke Surabaya”, ujar Taufik, Rabu (20/08).

Dikatakan oleh Taufik, bahwa seluruh muatan berupa mobil baru tersebut nantinya akan diturunkan satu persatu dan dikemudikan oleh sopir truk tersebut dibantu dengan sopir lain dari truk lain yang masih satu perusahaan menuju ke timur jembatan Comal. Di timur jembatan Comal sudah siap truk atau care caryer yang akan membawa melanjutkan ke Surabaya. “Kami bertanggungjawab penuh dengan mobil
yang kami bawa, sehingga kami tidak mau menyewa sopir di daerah sini, takut terjadi kenapa-kenapa”, terang Taufik.

Menurt Taufik, jika harus dibawa oleh sopir selain sopir dari truk yang membawa dari perusahaan, ia takut mobil itu rusak ataupun tergores, disamping itu setiap membawa satu mobil ke timur jembatan
ada biayanya yaitu Rp. 50 ribu. Oleh karenanya ia lebih memilih menunggu teman-temannya daripada harus menggunakan sopir sewaan.

Disampaikannya, bahwa biaya atau ongkos pengiriman untuk 1 rit dari Karawang ke Surabaya yang saat ditempuh dalam kondisi normal 4 hari 4 malam pulang pergi, tetapi karena faktor jembatan Comal menjadi lebih lama ia dibayar Rp. 4.550.000 per ritnya (1 rit = 1 truk = 6 unit mobil). Namunkarena pengiriman setengah perjalanan dan disambung oleh truk lain maka ia menerima separohnya lebih sedikit dari yang
meneruskan ke Surabaya. “Yang meneruskan memperoleh Rp. 2.470.000, dan kami sisanya”, jelas Taufik lagi.

Taufik mengaku bahwa dengan kondisi seperti itu pendapatannya menjadi berkurang yang semestinya bisa memperoleh penuh hanya menerima separohnya, tidak itu saja waktunya juga terlalu lama. Saat normal ia
bisa sampai 7 rit untuk satu bulannya mengirim mobil ke Surabaya, saat sekarang paling 3 rit saja, itupun hanya sampai di Pemalang, setelah itu kembali ke Karawang.(Hp)

Pos ini dipublikasikan di daerah, Pemalang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s