Sidang Kasus Karaoke Belik Ditunda

Pengunjung sidang keluar dari ruang sidang (foto:Reportase)

Pengunjung sidang keluar dari ruang sidang (foto:Reportase)

Pemalang (Reportase) – Sidang kasus pemecahan kaca kafe oleh terdakwa  Mardi bin Dakyat warga Desa Sikasur RT.03 RW.05 Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang dengan agenda pembacaan tuntutan, terpaksa harus ditunda karena jaksa penuntut umum belum siap. Sidang yang digelar Selasa(06/05) dimulai pukul 12.00 WIB dan berjalan hanya sekitar 7 menit tersebut oleh majlis hakim akhirnya ditunda dan dilanjutkan pekan depan.

Panitera, Hendro Purwanto, SH menyampaikan, rencana awal adalah tuntutan, namun karena jaksa belum siap dibacakan, maka sidang ditunda dan dilanjutkan pekan depan. “Hari ini rencananya tuntutan, karena jaksa belum siap maka sidang dilanjutkan pekan depan”, terang Hendro ditemui di ruang kerjanya.

Disampaikan, bahwa sesuai surat dakwaannya, Mardi bin Dakyat pada Jum’at (22/10/2013) sekitar pukul 14.30 WIB di rumah atau café milik saksi Rohimah dengan sengaja menghancurkan, merusakkan atau membikin barang tidak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian barang milik orang lain, perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara dan atau keadaan sebagai berikut : bahwa awalnya pada hari Jum’at (22/20/2013) sekitar pukul 10.00 WIB terdakwa mendapat laporan dari warga yang memberitahukan bahwa café milik Rohimah kadang-kadang masih buka, padahal sudah diterbitkan surat pernyataan bahwa kafe tidak boleh buka dengan alasan apapun.

Selanjutnya terdakwa menghubungi Tono, Yitno dan dan Kirno untuk berunding dan mengecek kebenaran laporan tersebut. Selanjutnya pada pukul 14.30 WIB di hari yang sama, terdakwa bersama ketiganya menuju ke café milik Rohimah dengan menggunakan sepeda motor, setelah sampai di café, Tono menghampiri Rohimah yang kebetulan pada saat itu berada di cucian sepeda motor yang tempatnya berada di depan café tersebut. Selanjutnya terdakwa, Yitno dan Kirno karena penasaran langsung menuju
ke café yang waktu itu dlam keadaan tertutup, akan tetapi karena terdakwa sudah merasa kesal dan marah akan keberadaan café tersebut yang masih buka, tidak mau menutup atas permintaan warga selanjutnya dengan penuh emosi memecahkan kaca nako cendela café, lalu terdakwa mendobrak pintu café yang terbuat dari triplek dan merusak jendela cafe samping sehingga pintu dan jendela rusak dan menjadikannya tidak bisa dipakai lagi. Atas hal tersebut sebagaimana diatur, terdakwa diancam pidana dengan pasal 406 ayat (1) KUHP.  Sementara ketua GMNI Pemalang, Imam Santoso mengatakan, apa yang disamapikan dalam surat dakwaan tersebut tidak semunaya benar. Mardi bin Dakyat bukan memecah kaca dan merusak jendela dan pintu nako seperti dalam dakwaan tersebut. Mardi hanya mengecek kebenaran laporan warga dan saat itu masuk dari pintu belakang dan melihat melalui kaca
nako, tetapi saat akan melihat kaca nako kondisinya sudah rapuh hingga terjatuh dan  pecah. Oleh karena itulah sebagai bentuk dukungan moral kepada Mardi, GMNI ikut dan menyaksikan persidangan tersebut. Disampaikan oleh Imam, bahwa keberadaan café di Desa Sikasur Kecamatan Belik sangat meresahkan warga sekitar. Dengan adanya kesepakatan ditutup menjadikan warga lega, namun beberapa hari kemudian terbukti dibuka lagi oleh pemiliknya, hingga menimbulkan keresahan warga dna hal tersebut dilaporkan kepada Mardi hingga berujung pada persidangan (Hp)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s