Pelihara Burung Hantu Untuk Basmi Tikus

Karnoto, Kepala desa Karangtalok Amplgading Pemalang (foto:Reportase)

Karnoto, Kepala desa Karangtalok Amplgading Pemalang (foto:Reportase)

Pemalang (Reportase) – Pemberantasan hama tikus yang dilakukan oleh petani di kabupaten Pemalang saat ini memang belum bisa dikatakan berhasil secara maksimal. Gropyokan yang sering dilakukan untuk mengusir hama tikus ini memang gencar dilakukan petani antara lain dengan pengasapan, menggunakan anjing untuk berburu tikus dan dukkelting (duduk cekel banting) yang berarti menggali, menangkap dan membanting tikus. Namun dari kegiatan tersebut timbul efek biaya yang sangat tinggi, selain juga menguras tenaga. Itulah yang menjadi pemikiran kades Karangtalok kecamatan Ampelgading Pemalang, untuk bagaimana caranya membasmi hama tikus dengan cara yang efektif dengan biaya se-efisien mungkin.

Hal tersebut diungkapkan kepala desa Karangtalok kecamatan Ampelgading Pemalang kepada Reportase saat berkunjung di kantor kepala desa (selasa, 15 April 2014).  Karnoto, kepala desa Karangtalok mengungkapkan bahwa dirinya saat ini sedang mecoba metode baru dalam hal pemberantasan hama tikus. Dijelaskan bahwa metode tersebut adalah kembali ke alam, yaitu dengan menggunakan hewan atau burung predator pemangsa tikus. Karnoto tertarik dengan metode ini karena dirinya sudah melihat dan mempelajari sendiri pemberantasan hama tikus menggunakan burung hantu di desa Tlogoweru kecamatan Guntur kabupaten Demak. Disamping itu Karnoto juga belajar dari sebuah desa di kabupaten tetangga, yang sudah menerapkan metode tersebut.
Di desa Karangtalok ada 175 Ha area persawahan yang ditanami padi. Sudah 2 (dua) tahun terakhir ini petani merasakan panen setelah 10 tahun sebelumnya selalu gagal panen atau puso. Keberhasilan panen tersebut karena ada kegiatan gropyokan, yaitu memberantas hama tikus secara berkesinambungan.
“Saya belum puas dengan keberhasilan ini mas. Karena dari kegiatan gropyokan itu sendiri muncul biaya cukup tinggi yang membebani petani,” jelas Karnoto.
Dijelaskan juga bahwa dirinya sudah mempersiapkan metode baru yaitu memelihara burung sejenis burung hantu (Tyto alba javanica) yang nantinya akan di lepas di areal persawahan untuk memangsa hama tikus pada malam hari. Saat ini Karnoto dibantu petani mulai memasang RUBUHA (rumah burung hantu) diareal persawahan. Sudah ada 33 buah rubuha yang terpasang dengan jarak masing-masing rubuha sekitar 100 meter.
“Saya mendapatkan burung-burung ini dari desa Tlogoweru Demak, karena baru disana yang ada karantina burung hantu jenis tyto alba javanica,” jelasnya.
Ditambahkan bahwa dirinya membeli sebanyak 7 ekor burung dengan harga 3,5 juta rupaih per pasang. Pada saat ini Karnoto sudah melepas 6 burung di areal persawahan yang sudah terpasang rubuha (rumah burung hantu) seluas 33 Ha. Sedang seekor lainnya masih di ruang karantina.
Saat ditanya harapannya ke depan dengan metode burung hantu ini mengingat biaya awal yang juga sangat tinggi. karnoto menjawab dengan penuh optimis bahwa ini akan bisa dirasakan manfaatnya oleh para petani di desanya, juga oleh desa-desa sekitarnya.
“Biaya awal memang tinggi mas, tapi kita bisa lihat hasilnya setelah 3 (tiga) tahun ke depan. Harapan saya mudah-mudahan metode ini bisa maksimal memberantas hama tikus, sehingga petani tidak perlu lagi menguras tenaga gropyokan tikus, juga tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi, karena burung ini tidak perlu membeli pakan tiap harinya. Mereka akan mencari mangsanya sendiri dan pulang ke rubuha esok harinya,” jelasnya dengan optimis.
Diterangkan bahwa dengan luas lahan 175 ha, idealnya burung hantu yang harus dilepas adalah 100 pasang, dengan ketentuan 1 burung untuk 1 Ha sawah.
Selain itu pihaknya bersama BPD desa Karangtalok juga sudah musyawarah mengenai bagaimana caranya melindungi burung tersebut dari ulah jahil pemburu atau penembak burung, dengan dibuatkan perdes.
“Pemerintahan desa sudah sepakat, tinggal BPD yang sedang membuat draft perdes tentang larangan membunuh atau berburu burung hantu tersebut. Akan ada sansi bagi yang terbukti melanggar aturan itu,” tegas Karnoto di akhir wawancara. (Hp)
Pos ini dipublikasikan di daerah, Pemalang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s